Komitmen kami adalah memproduksi alat/ mesin dari bahan baku kualitas terbaik serta memberikan garansi dan layanan purna jual

 Indonesia Siap Jadi Eksportir Kakao

Indonesia Siap Jadi Eksportir Kakao

17 May 2013

Metrotvnews.com, Jember: Indonesia siap menjadi penguasa kakao dunia dengan mengalahkan Pantai Gading apabila ada integrasi stakeholder yang lebih kuat.

Hal itu dikemukakan Direktur Pusat Unggulan Iptek Kopi dan Kakao Indonesia Teguh Wahyudi di Jember, Jawa Timur, Jumat (17/5).

"Dari segi bibit, Indonesia lebih unggul. Sudah banyak negara Eropa yang mengakui keunggulan bibit di Indonesia dibanding Pantai Gading atau Ghana," kata Teguh kepada wartawan.

Kemudian, dari kondisi geografi, Pantai Gading dan Ghana terlalu kering. "Cuma kalau di Pantai Gading dan Ghana, dewan kakao di sana terintegrasi dengan baik sampai ke tingkat penelitian," terangnya.

Di sisi lain, kedua negara Afrika itu bekas jajahan Eropa, sehingga mudah mengekspornya.

"Tapi Indonesia sudah masuk anggota ICCO, organisasi kakao internasional tahun lalu. Dan itu menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengekspor kakao. Targetnya 7%, dan Jerman sebagai negara tujuan."

Disebutkan pula kualitas kakao di Afrika terlalu kering sehingga cita rasanya kurang enak.

Saat ini kebutuhan kakao dunia sekitar tiga juta ton per tahun. Sedangkan sumbangan Indonesia sebanyak 15%. "Peluangnya besar karena sekarang ini 70% kakao diproduksi di dalam negeri, sedangkan sisanya impor."

Teguh menyebutkan pula bahwa program pengembangan kakao secara besar-besaran yang digaungkan pemerintah pada masa Orde Baru, hanya bertahan tiga tahun, setelah itu tidak dilanjutkan.

"Nah sekarang ini akan banyak pabrik cokelat yang membangun di Indonesia dengan kebutuhan bahan baku 400 ribu ton hingga 600 ribu ton per hari. Yang menjadi masalah adalah kebutuhan bahan baku. Ini siap tidak pemerintah," imbuhnya.

Disebutkannya, saat ini Pusat Unggulan Iptek Kopi dan Kakao mampu memproduksi bibit antara 40 juta sampai 50 juta per tahun dengan sistem somatik embryogenesis (SE) atau pembelahan sel kultur jaringan, sehingga memudahkan pertumbuhan bibit. Lahan pun tercukupi. Termasuk pula para periset yang berjumlah 35 orang tercukupi.

Kabid Penelitian, Misnawi menambahkan untuk anggaran riset tahun ini mencapai Rp6 miliar untuk memenuhi seluruh kebutuhan riset.

Teguh menambahkan tahun 2015 Indonesia siap menjadi eksportir kakao dunia. "Secara riset sudah siap," tegasnya.

Kementerian Riset dan Teknologi mengukuhkan Puslit Kopi dan Kakao yang sudah berdiri sejak 1911 menjadi Pusat Unggulan Iptek Nasional tahun lalu. (Siswantini Suryandari)


Editor: Edwin Tirani