Komitmen kami adalah memproduksi alat/ mesin dari bahan baku kualitas terbaik serta memberikan garansi dan layanan purna jual

Pemerintah Targetkan Produksi Kopi Naik 16 Persen

Pemerintah Targetkan Produksi Kopi Naik 16 Persen

22 April 2013

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah menargetkan produksi kopi tahun ini naik sekitar 16 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Produksi kopi pada 2013 ditargetkan mencapai 763 ribu ton, naik dari capaian tahun lalu sebesar 657.138 ton.  

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan, realisasi produksi kopi nasional tahun lalu memang lebih rendah dari target yang ditetapkan karena faktor cuaca. Menurut dia, tak tercapainya target produksi kopi tahun lalu akibat cuaca buruk dan serangan hama, juga karena krisis ekonomi dari negara-negara importir.

“Hama yang menyerang tanaman kopi mampu menurunkan produktivitas kopi hingga 60 persen,” kata Rusman ketika dihubungi, Senin, 7 Januari 2013.

Karena itulah, Kementerian Pertanian memasang target baru untuk produksi kopi tahun ini. Ia optimistis produksi kopi tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu. Hal itu didasarkan pada capaian produksi 2012 sebenarnya masih lebih tinggi dari realisasi produksi kopi pada 2011 yang tercatat sebesar 638.647 ton.

Rusman menambahkan berbagai upaya akan dilakukan, di antaranya mempercepat perluasan areal tanam dan peremajaan tanaman. Dengan langkah ini diharapkan produksi kopi bisa meningkat karena harga kopi juga diprediksi akan terus naik seiring meningkatnya konsumsi dunia.

Berdasarkan data dari International Coffee Organization (ICO), sejak 2010 tren peningkatan konsumsi kopi dunia sebesar 2,5 persen per tahun. Pada 2015, konsumsi kopi dunia diperkirakan mencapai 155 juta karung. Pada 2020, konsumsi kopi dunia mencapai 165 juta karung hingga 173 karung.

Rusman melanjutkan, selain meningkatkan produksi kopi, pemerintah juga akan meningkatkan volume ekspor produk olahan kopi. Nantinya, ekspor kopi diharapkan tidak hanya dalam bentuk mentah tapi menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang memiliki nilai tambah.

Ke depan, kata Rusman, tantangan dan peluang kopi Indonesia adalah bagaimana bisa meningkatkan produksi dan pengolahan di dalam negeri sehingga Indonesia mengekspor kopi olahan yang mempunyai nilai tambah tinggi.

“Indonesia adalah produsen kopi keempat terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia,” katanya.

Selama ini, sekitar 75 persen produksi kopi Indonesia diekspor dalam bentuk mentah dan 25 persen menjadi kopi bubuk atau kopi instan. Dengan kenaikan harga kopi, Rusman berharap Indonesia lebih banyak mengekspor kopi bubuk sehingga nilainya meningkat.

ROSALINA